Jelajahi BDT NEWS

Tak Semua UPF Dikaitkan Risiko Kanker Usus Lebih Tinggi, Ini Temuan Studi

Penelitian PLOS Medicine menemukan konsumsi makanan ultra-proses tidak berhubungan langsung dengan kanker kolorektal, namun jenis makanan tertentu berpengaruh.

health.detik.com (Sumber) via Detik Health • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 13 jam yang lalu
3 menit baca 0

Jakarta — Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kaitan antara makanan ultra-proses (UPF) dan risiko kanker kolorektal. Studienya menyebutkan bahwa tidak semua makanan ultra-proses memiliki risiko yang sama terhadap perkembangan kanker usus besar.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Medicine pada 15 Oktober itu menyebutkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara keseluruhan sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan angka kejadian kanker kolorektal. Hasil berbeda justru muncul ketika peneliti menganalisis jenis makanan spesifik di dalam kelompok UPF.

Kategori makanan ultra-proses sangat luas, mencakup produk seperti biskuit kemasan, mi instan, minuman manis, daging olahan, dan keripik. Berdasarkan temuan ini, label "UPF" saja rupanya tidak cukup untuk menjelaskan mengapa suatu makanan bisa dikaitkan dengan risiko kanker usus. Kandungan nutrisi serta jenis bahan yang menyusun makanan tersebut disebut turut berperan besar.

Sebagai contoh, konsumsi biji-bijian utuh dan produk susu yang berada dalam kelompok UPF justru dikaitkan dengan angka kejadian kanker kolorektal yang lebih rendah. Sementara itu, konsumsi daging olahan dari kelompok yang sama dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih tinggi.

"Temuan kami mendukung panduan pola makan saat ini untuk mengonsumsi biji-bijian utuh, serat, produk susu, dan kalsium serta menghindari daging olahan untuk mencegah kanker kolorektal," tulis para peneliti.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa menggantikan sebagian asupan makanan ultra-proses dengan makanan yang lebih minim pengolahan berkaitan dengan penurunan angka kejadian kanker usus.

"Mengganti 10% asupan makanan ultra-olahan Anda dengan makanan yang diproses seminimal mungkin dikaitkan dengan penurunan kejadian kanker usus sebesar 2%," jelas salah satu peneliti, Erikka Lotfield, seperti dikutip dari laporan di Conversation.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti menggunakan data dari 461.682 partisipan dewasa berusia 50 hingga 71 tahun yang dipantau selama kurang lebih 18 tahun. Kebiasaan makan peserta, termasuk konsumsi makanan ultra-proses, diperkirakan melalui kuesioner frekuensi makanan.

Kendati demikian, peneliti menekankan sejumlah keterbatasan dalam studi ini karena metode yang digunakan bersifat observasional. Artinya, hasil penelitian hanya menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi makanan dan kejadian kanker, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Selain itu, para peneliti juga mengingatkan bahwa hasil studi ini belum tentu berlaku bagi populasi yang lebih muda dan lebih beragam. Partisipan penelitian sebagian besar merupakan warga Amerika Serikat berkulit putih dan berusia lebih tua. Selain itu, konsumsi makanan ultra-proses hanya diukur satu kali pada awal masa penelitian.

Kanker Kolorektal Meningkat pada Kelompok Usia Muda

Menurut data American Cancer Society, kanker kolorektal diproyeksikan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi pada orang berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat pada 2026. Peringkatnya melonjak drastis dari posisi kelima pada awal 1990-an.

"Kami tidak menyangka kanker kolorektal akan meningkat hingga tingkat ini dengan begitu cepat. Namun, kini jelas bahwa penyakit ini tidak bisa lagi disebut sebagai penyakit orang tua," kata Dr Ahmedin Jemal, wakil presiden senior bidang surveilans, pencegahan, serta penelitian layanan kesehatan di American Cancer Society, dalam rilis pada Januari.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK