Jelajahi BDT NEWS

Maltodekstrin Bukan Gula, Ini Fungsi dan Perannya dalam Pangan

Maltodekstrin kerap ditemukan dalam makanan olahan. Kenali fungsi bahan ini dan mengapa penggunaannya perlu dipahami dari komposisi produk secara utuh.

cnnindonesia.com (Sumber) via CNN Gaya Hidup Kesehatan • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 jam yang lalu
4 menit baca 0

Tangerang, BeritaDuniaTerbaru.com — Maltodekstrin mungkin masih asing di telinga sebagian masyarakat. Namun, bahan ini bisa ditemukan dalam berbagai produk pangan, mulai dari makanan ringan hingga minuman kemasan.

Keberadaannya dalam daftar komposisi kerap menimbulkan pertanyaan, terutama ketika masyarakat semakin peduli terhadap kandungan gula dan bahan tambahan dalam makanan. Padahal, maltodekstrin memiliki fungsi tersendiri dalam proses pembuatan produk pangan.

Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) Julia R. Wijaya menjelaskan, setiap bahan yang digunakan dalam formulasi pangan memiliki karakteristik dan fungsi berbeda. Karena itu, keberadaan suatu bahan tidak bisa langsung dinilai hanya berdasarkan namanya.

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah perbedaan antara maltodekstrin dan gula. Meski sama-sama berkaitan dengan karbohidrat, keduanya memiliki struktur yang berbeda.

"Di sinilah bahan seperti maltodekstrin dibutuhkan. Maltodekstrin bukan gula atau gula tambahan. Struktur maltodekstrin berbeda dengan gula," kata Julia dalam acara World Food Day yang diselenggarakan Danone bersama UPH di Tangerang, Kamis (15/10).

Apa itu maltodekstrin?

Maltodekstrin merupakan karbohidrat yang dihasilkan dari pengolahan pati melalui proses hidrolisis, yakni pemecahan molekul pati menjadi rantai karbohidrat yang lebih pendek. Bahan ini umumnya berbentuk serbuk putih dan dapat dibuat dari berbagai sumber pati tumbuhan, seperti jagung, beras, kentang, atau gandum.

Dalam industri pangan, maltodekstrin digunakan untuk membantu membentuk karakteristik produk sesuai kebutuhan. Penggunaannya tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga tekstur, kekentalan, kestabilan, hingga sensasi makanan saat dikonsumsi.

Menurut Julia, formulasi produk pangan tidak sesederhana mencampurkan sejumlah bahan. Setiap komponen memiliki peran yang dapat saling melengkapi untuk menghasilkan produk dengan karakteristik tertentu.

Hal ini juga berlaku ketika produsen menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula. Meski dapat memberikan rasa manis, pemanis buatan tidak selalu bisa menggantikan fungsi gula dalam membentuk tekstur dan body produk.

Fungsi maltodekstrin dalam produk pangan

Penggunaan maltodekstrin dalam makanan olahan berkaitan dengan sejumlah fungsi teknologis. Berikut beberapa di antaranya:

1. Membantu membentuk tekstur makanan

Maltodekstrin dapat digunakan untuk memberikan kekentalan, menambah volume, serta membantu membentuk tekstur produk pangan. Fungsi ini penting karena kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh rasa. Tekstur dan mouthfeel, yakni sensasi yang dirasakan di mulut saat mengonsumsi makanan atau minuman, juga memengaruhi karakter produk.

2. Menjaga kestabilan produk

Dalam formulasi tertentu, maltodekstrin dapat membantu menjaga kestabilan produk dan mendukung pencampuran berbagai bahan. Bahan ini juga dapat digunakan sebagai pembawa (carrier) vitamin, mineral, atau komponen lain dalam produk pangan. Dengan begitu, bahan-bahan tersebut dapat diformulasikan ke dalam produk sesuai kebutuhan.

3. Membantu proses pengolahan makanan

Maltodekstrin memiliki sifat yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai proses pengolahan pangan. Penggunaannya dapat membantu mengatur karakteristik produk, termasuk tekstur dan konsistensi. Fungsi spesifiknya bergantung pada jenis makanan, komposisi bahan, serta tujuan formulasi yang ingin dicapai produsen.

4. Menjadi sumber karbohidrat

Selain memiliki fungsi teknologis, maltodekstrin juga merupakan sumber karbohidrat yang dapat dicerna tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Karakteristik ini membuat maltodekstrin dapat ditemukan dalam produk nutrisi tertentu, termasuk produk yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi.

Meski demikian, fungsi tersebut tidak berarti semua produk yang mengandung maltodekstrin otomatis lebih bergizi. Kandungan gizi produk tetap perlu dinilai secara keseluruhan.

Apakah maltodekstrin sama dengan gula?

Maltodekstrin dan gula sama-sama berkaitan dengan karbohidrat, tetapi keduanya tidak identik. Gula sederhana, seperti glukosa dan sukrosa, memiliki struktur yang berbeda dari maltodekstrin yang tersusun atas rantai unit glukosa. Perbedaan struktur ini membuat keduanya memiliki karakteristik dan fungsi yang tidak selalu sama dalam formulasi makanan.

Maltodekstrin bukan gula meja atau sukrosa. Namun, bukan berarti bahan ini tidak berpengaruh terhadap kadar gula darah. Maltodekstrin dapat dicerna dan dipecah menjadi glukosa sehingga berpotensi meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Dampaknya perlu diperhatikan, terutama oleh orang yang harus mengontrol kadar gula darah.

Karena itu, membedakan maltodekstrin dari gula tambahan tidak sama dengan menganggap maltodekstrin bebas dari dampak metabolik. Penting pula untuk tidak menyimpulkan kualitas suatu produk hanya dari ada atau tidaknya maltodekstrin. Jumlah bahan yang digunakan, kandungan karbohidrat, gula, serat, serta zat gizi lainnya perlu dipertimbangkan bersama-sama.

Perlukah menghindari produk yang mengandung maltodekstrin?

Keberadaan maltodekstrin dalam daftar komposisi tidak serta-merta berarti suatu produk berbahaya atau harus dihindari. Penggunaannya perlu dipahami berdasarkan fungsi, jumlah, dan jenis produk pangan. Bahan ini memiliki kegunaan dalam proses pengolahan makanan, sementara dampaknya terhadap tubuh juga perlu dilihat dalam konteks pola konsumsi secara keseluruhan.

"Membaca tabel informasi nilai gizi dan daftar komposisi dapat membantu konsumen memahami kandungan produk yang dibeli. Perhatikan pula jumlah karbohidrat per sajian, gula, serat, serta ukuran takaran saji agar penilaian tidak hanya berfokus pada satu bahan," kata Julia.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK