Jakarta — Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kesehatan saluran pernapasan anak. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa meluas hingga memengaruhi kinerja otak dan kesehatan mental mereka.
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Fifi Sofiah, SpA, SubspRespi(K), menjelaskan bahwa anak yang terpapar asap karhutla secara terus-menerus berisiko mengalami gangguan respirasi permanen dan penyakit paru obstruktif kronis di kemudian hari.
"Ke depannya, karena partikel bahan kimia dan sebagainya, bisa meningkatkan risiko penyakit kanker paru," kata dr Fifi dalam acara temu media IDAI, Jumat (16/10/2026).
Selain merusak paru-paru, paparannya juga dapat mengganggu sistem kardiovaskular anak.
Lebih lanjut, dr Fifi menyebut bahwa paparan asap karhutla yang berulang tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga memengaruhi kecerdasan anak. Berdasarkan berbagai penelitian, asap karhutla dapat menurunkan kualitas intelegensia dan skor akademik anak.
"Artinya ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan akhirnya tingkat pendapatan serta kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa," sambungnya.
Tak hanya soal kecerdasan, ia juga menyoroti dampak kesehatan mental dari paparan asap karhutla jangka panjang. Trauma akibat bencana asap bisa berujung pada kondisi post-traumatic stress disorder (PTSD).
"Ini adalah kondisi-kondisi yang harus kita antisipasi agar nanti dampak ke depannya, jangka panjang pada anak-anak itu tidak terjadi," tegas dr Fifi.