Apa Peran Maggot BSF?
Di Swara Hijau Farm, maggot digunakan untuk membantu proses biokonversi sampah organik. Larva diberi bahan organik yang telah dipersiapkan sebagai pakan, kemudian tumbuh hingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.
"Maggot ini manfaatnya adalah dia sebagai salah satu alat untuk biokonversi sampah organik," kata Endang.
Setelah tumbuh, maggot dapat digunakan sebagai pakan ikan dan ayam, dijual dalam kondisi segar, dikeringkan, atau diolah menjadi pelet ikan. Sebagian lainnya dipelihara untuk meneruskan siklus budidaya.
Lalat BSF dewasa memiliki peran dalam perkembangbiakan. Menurut Endang, siklus hidupnya sekitar 45 hari, dimulai dari telur, kemudian larva, prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa.
Apakah Maggot Aman Dipegang?
Perbedaan jenis lalat tidak berarti kebersihan bisa diabaikan. Maggot yang dibudidayakan tetap berhubungan dengan sampah bahan organik, sehingga tangan dan peralatan bisa terpapar kontaminan selama proses pengelolaan.
Endang menjelaskan bahwa dalam prosedur keselamatan kerja di kebun, penggunaan alat pelindung tetap dianjurkan.
"Kalau memang SOP-nya itu harusnya pakai masker, terus juga pakai sarung tangan, pakai sepatu boot," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya mencuci tangan setelah kontak dengan maggot.
"Tanpa sarung tangan nggak apa-apa, cuma harus dicuci pakai sabun," tutur Endang.
Karena itu, jangan menganggap semua belatung sama, tetapi jangan pula menyimpulkan bahwa semua larva atau bahan budidaya otomatis aman hanya berdasarkan jenis lalatnya. Mengenali jenis larva dan menjaga kebersihan merupakan dua hal yang sama-sama penting.
Mengapa Maggot BSF Dipilih untuk Mengolah Sampah?
Salah satu alasan maggot BSF dibudidayakan adalah kemampuannya membantu menguraikan sampah organik dalam waktu relatif singkat. Di Swara Hijau Farm, larva ini dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya mengolah sisa makanan dari warga maupun restoran.
Sebelum diberikan kepada maggot, sampah organik tersebut dihaluskan menggunakan mesin, kemudian dicampur dengan EM4 (Effective Microorganisms 4) dan molase atau tetes tebu. Bahan itu selanjutnya difermentasi semalam sebelum menjadi pakan larva.
Menurut Endang, pengolahan awal tersebut turut membantu mengurangi masalah bau dari bahan pakan. Ia menjelaskan bahwa sampah yang digunakan diolah terlebih dahulu agar kondisinya lebih mudah dikelola.
Selain membantu mengolah sampah, maggot yang sudah tumbuh juga memiliki nilai guna. Larva dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam karena bisa diolah dalam beberapa bentuk, mulai dari segar hingga kering. Sebagian maggot juga dipertahankan untuk melanjutkan proses budidaya.
Dengan demikian, pemanfaatan maggot BSF tidak berhenti pada proses penguraian sampah. Budidaya ini juga memungkinkan hasil pengolahan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan peternakan. Meski begitu, prosesnya tetap membutuhkan pengelolaan pakan dan kebersihan yang baik agar tidak menimbulkan masalah di lingkungan sekitar.
Simak Video "
[Gambas:Video 20detik]