BeritaDuniaTerbaru.com
Sabtu, 17 Okt 2026 02:00 WIB
Ilustrasi. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan untuk mengutamakan 'me time' bisa jadi tanda adanya masalah mental yang menyertai. (istockphoto/kupicoo)
Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com —
Menyendiri demi mendapatkan waktu sendiri memang hal yang wajar. Namun, psikolog mengingatkan bahwa kebiasaan mengutamakan me time dalam kondisi tertentu bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental.
Secara alami, manusia memang membutuhkan waktu untuk diri sendiri, terutama setelah bersosialisasi atau berjibaku dengan banyak orang dalam waktu lama. Me time sendiri pada dasarnya merupakan fase sementara yang dibutuhkan seseorang untuk mengisi kembali energi sosial.
Psikiater yang berbasis di Munich, Jerman, Tatjana Reichart menjelaskan, wajar apabila seseorang ingin menyisihkan waktu untuk diri sendiri dalam beberapa hari atau pekan.
"Jika mengasingkan diri adalah pilihan sendiri dan sengaja menggunakan waktu itu untuk diri sendiri, kita tidak akan menyebutnya sebagai menarik diri dari sosial," kata Reichart, sebagaimana melansir South China Morning Post.
Me time vs mengisolasi diri
Reichart menegaskan, me time jelas berbeda dengan mengisolasi diri. Jika me time dilakukan untuk mengisi ulang energi, mengisolasi diri biasanya dilakukan untuk menghindari sesuatu, seperti menjauhi perasaan negatif.
Sebagai contoh, menghindari undangan nongkrong dari teman kantor semata-mata karena takut dicap "tidak asyik" saat berbincang merupakan bentuk penghindaran yang算不上 me time sejati. Inilah yang tergolong sebagai isolasi diri secara sengaja.
Psikolog asal Hamburg, Jerman, Klaus Nuyken menyatakan, penghindaran memang mampu meredakan rasa takut dalam jangka pendek. Namun, rasa takut itu akan tetap ada dan justru tumbuh semakin kuat seiring waktu.
Tanpa interaksi sosial, seseorang tak akan mengetahui umpan balik positif apa yang bisa diperoleh dari lingkungan sosialnya. Nuyken memperingatkan bahwa kondisi ini dapat memperkuat kecenderungan seseorang untuk menarik diri secara sosial.
"Pengasingan sosial berkaitan erat dengan penyakit mental seperti gejala depresi dan gangguan cemas," tutur Nuyken.
Dalam kasus depresi, penarikan diri secara sosial umumnya disebabkan oleh kelelahan atau hilangnya minat terhadap aktivitas yang biasa dilakukan. Sementara itu, penghindaran juga memainkan peran penting dalam gangguan cemas, yang bisa pula diakibatkan oleh pengalaman traumatis.
Orang yang tengah mengalami depresi, gangguan cemas, atau masalah mental lainnya sering kali tidak menyadari bahwa "me time" yang mereka jalankan sebenarnya merupakan bentuk penarikan diri dari sosial.
"Inilah mengapa penting untuk merenung. Misalnya, seberapa puas dan segarkah Anda sebelum dan sesudah me time?" kata Reichart.
Selain merenung, seseorang juga disarankan untuk membandingkan bagaimana perasaan yang muncul setelah me time atau setelah berinteraksi bersama teman.
Memulai kembali interaksi sosial bisa sangat sulit bagi mereka yang telah terbiasa menyendiri dalam waktu lama. Namun, apabila mencurigai adanya sesuatu yang tidak beres secara mental, langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional.
(asr)