Jakarta — Citra satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali memetakan sebaran emisi polutan yang menyelimuti wilayah Asia Tenggara, termasuk langit Indonesia. Rekaman pencitraan tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi gas Karbon Monoksida (CO) di atmosfer di langit Indonesia.
Mekanisme Bahaya Karbon Monoksida dalam Darah
Dikutip dari halaman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, karbon monoksida (CO) merupakan gas tanpa warna dan tanpa bau yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna. Karakteristiknya yang tak kasatmata membuat gas ini kerap dijuluki sebagai silent killer.
Ketika terhirup, gas CO memiliki daya ikat (afinitas) terhadap hemoglobin darah hingga 200 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Pengikatan ini membentuk karboksihemoglobin (COHb), yang secara langsung memicu hipoksia atau kekurangan oksigen pada jaringan tubuh.
Dampak paparan CO terhadap tubuh manusia melingkupi berbagai gangguan klinis:
- Sistem Kardiovaskular: Paparan CO memperburuk kondisi iskemia miokard, memicu serangan jantung, meningkatkan kejadian hipertensi, serta mempertinggi risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK).
- Sistem Pernapasan dan Neurologis: Memicu sesak napas, pusing, sakit kepala berat, bronchitis, hingga kondisi neurologis fatal berupa Delayed Encephalopathy after Acute Carbon Monoxide Poisoning (DEACMP).
- Sistem Kesehatan Ibu dan Anak: Berkontribusi terhadap kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) serta risiko stunting pada balita akibat pasokan oksigen yang terhambat selama masa pertumbuhan.
Gejala Keracunan Karbon Monoksida
Karbon monoksida paling memengaruhi otak dan jantung. Paparan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gejala yang dapat disalahartikan sebagai gejala flu tanpa demam. Gejala keracunan karbon monoksida yang lebih jelas dapat meliputi:
- Sakit kepala.
- Lemah.
- Pusing.
- Mual atau muntah.
- Sesak napas.
- Kebingungan.
- Penglihatan kabur.
- Mengantuk.
- Kehilangan kendali otot.
- Kehilangan kesadaran.
Gejala yang berkaitan dengan sistem saraf dan otak dapat muncul setelah pemulihan dari keracunan karbon monoksida. Risiko ini lebih tinggi pada orang lanjut usia dan orang yang kehilangan kesadaran akibat menghirup karbon monoksida. Gejalanya mungkin meliputi:
- Kehilangan ingatan.
- Perubahan kepribadian.
- Masalah gerakan.
Keracunan karbon monoksida dapat sangat berbahaya bagi orang yang sedang tidur atau telah menggunakan obat-obatan terlarang, alkohol, atau obat-obatan yang membuat mereka sangat mengantuk. Keracunan karbon monoksida dapat menyebabkan kerusakan otak atau kematian sebelum seseorang menyadari adanya gejala.
Simak Video "Video Timelapse: Sejak Kapan Konsentrasi Karbon Monoksida Tinggi Tutupi RI?"
[Gambas:Video 20detik]