Jelajahi BDT NEWS

Kasus ISPA Akibat Karhutla di Indonesia Tembus 283 Ribu

Kemenkes mencatat ada 283.270 kasus ISPA akibat karhutla hingga Selasa (13/10). Malaysia juga melaporkan kenaikan kasus infeksi pernapasan.

cnnindonesia.com (Sumber) via CNN Gaya Hidup Kesehatan • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 21 jam yang lalu
2 menit baca 0

BeritaDuniaTerbaru.com

Sabtu, 17 Okt 2026 04:00 WIB

Kemenkes mencatat ada 283.270 kasus ISPA akibat karhutla hingga Selasa (13/10). Malaysia juga melaporkan kenaikan kasus infeksi pernapasan.Ilustrasi. Kemenkes mencatat ada 283.270 kasus ISPA akibat karhutla hingga Selasa (13/10). Malaysia juga melaporkan kenaikan kasus infeksi pernapasan. (REUTERS/Abriansyah Liberto)

Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode Agustus hingga 13 Oktober 2026.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengungkapkan, dari total kasus tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak berusia 0 hingga 5 tahun.

"Situasi harian hingga hari ini kasus ISPA sebanyak 3.897 hingga 13 Oktober dan secara kumulatif ini ada total 283.270 kasus ISPA dengan kasus sebanyak 63.711 kasus terjadi pada anak berusia 0 hingga 5 tahun," terang Suyanti, Jumat (16/10).

Dia menjelaskan, kasus itu tercatat di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten dan kota terdampak karhutla. Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 74.636 kasus, diikuti Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.

Suyanti menambahkan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan asap tersebut bisa menyebabkan berbagai gejala ISPA, mulai dari batuk, pilek, sesak napas, hingga radang tenggorokan.

Paparan asap juga berpotensi memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta memicu iritasi pada mata dan kulit. Tidak hanya mengganggu pernapasan, asap karhutla pun berisiko memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

"Tentunya kita harus menjaga kelompok rentan sebagaimana anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, maupun pekerja di luar ruangan," kata Suyanti.

Infeksi pernapasan juga meningkat di Malaysia

Dampak kabut asap terhadap kesehatan juga menjadi perhatian di Malaysia. Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat kasus infeksi saluran pernapasan atas meningkat 10,43 persen, whereas kasus konjungtivitis atau peradangan pada selaput bening mata naik 26,47 persen.

Berdasarkan data yang dirilis pemerintah Malaysia, kasus infeksi saluran pernapasan atas bertambah dari 3.509 kasus pada minggu epidemiologi ke-39 menjadi 3.875 kasus pada minggu ke-40. Sementara itu, kasus konjungtivitis meningkat dari 102 menjadi 129 kasus pada periode yang sama.

Kementerian Kesehatan Malaysia menyatakan pemantauan penyakit terkait kabut asap akan terus diperkuat. Masyarakat diminta rutin memantau kualitas udara melalui kanal resmi Departemen Lingkungan Hidup Malaysia dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi di wilayah masing-masing.

(anm/rti)

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK