BeritaDuniaTerbaru.com, Jakarta — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan peta jalan dekarbonisasi untuk sembilan subsektor manufaktur, yakni semen, pupuk amonia, logam, pulp dan kertas, kimia, tekstil, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta otomotif. Pemerintah menargetkan sektor manufaktur mencapai emisi nol bersih (net zero emission/NZE) pada 2050, lebih cepat satu dekade dibandingkan target nasional yang baru pada 2060.
Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, dekarbonisasi industri dapat membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat daya saing ekspor Indonesia.
"Dekarbonisasi industri bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang bagi Indonesia menjadi pemimpin regional industri rendah karbon," kata Fabby, Minggu (18/10/2026).
Fabby menyebut emisi sektor industri mencapai sekitar 382 juta ton CO₂ pada 2023 atau setara 32,9% dari total emisi nasional. Ia juga memperkirakan potensi kewajiban karbon produk Indonesia mencapai US$208,1 juta dan dapat meningkat menjadi US$288,4 juta apabila cakupan kebijakan diperluas.
Tekanan terhadap industri nasional juga meningkat seiring penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa pada 2026. Mekanisme tersebut mengenakan kewajiban karbon terhadap produk tertentu berdasarkan emisi yang terkandung di dalamnya.
Untuk membantu industri membiayai transisi hijau, pemerintah mengembangkan Green Industry Service Company (GISCO), sebuah ekosistem yang menghubungkan pelaku industri, penyedia teknologi, dan lembaga keuangan.
Mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan skema tersebut dirancang untuk membuka akses pembiayaan berbiaya rendah bagi investasi industri hijau.
"GISCO ini adalah jembatan antara lembaga pembiayaan, penyedia teknologi, dan pelaku industri sebagai upaya transformasi industri hijau dengan pembiayaan murah," kata Agus.