Jakarta — Kol goreng sering hadir sebagai hidangan pendamping yang kering dan renyah ketika masyarakat menyantap ayam penyet atau pecel lele. Teksturnya yang gurih serta rasa asin-manis menjadikan sajian ini begitu menggugah selera.
Pada dasarnya, kol segar merupakan sayuran kaya nutrisi yang mengandung vitamin C, vitamin K, asam folat, serta senyawa antioksidan penangkal kanker. Lantas, bagaimana proses penggorengan memengaruhi kandungan gizi dan kesehatan tubuh?
Menyerap Minyak Seperti Spons
Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK menjelaskan, proses penggorengan pada suhu tinggi, yakni di atas 150 hingga 180 derajat Celcius, dapat merusak struktur dinding sel tanaman kol.
Cairan alami di dalam sel kol akan menguap pesat sehingga rongga-rongga kosong tersebut langsung terisi oleh minyak goreng.
"Karena si sayur kol tadi yang tadinya energinya sebenarnya cuma kecil, tapi karena dia bertindak sebagai spons tadi, dia malah menyerap si minyak. Ya pasti jadi padat energi," jelas dr Yaze kepada BeritaDuniaTerbaru.com, Jumat (16/10/2026).

Kol segar sebenarnya jauh lebih sehat. Foto: Getty Images/Tuccera LLC
Risiko Kolesterol Tinggi hingga Stroke
Kebiasaan mengonsumsi kol goreng secara berlebihan menyimpan risiko berupa lonjakan kadar trigliserida dan kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL).
Penumpukan lemak ini berisiko memicu penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis hingga penyakit serius lainnya.
"Belum lagi kalau misalnya kita konsumsi terus-menerus dalam jangka panjang, itu bisa terjadi penyakit aterosklerosis. Jadi kayak penumpukan lemak di pembuluh darah, jadi menyempit gitu," katanya.
"Yang paling kita takuti kalau sampai kena penyakit jantung, apalagi sampai stroke," tambah dr Yaze.
Menerapkan Mindful Eating
Mengingat risikonya bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, dr Yaze menyarankan untuk mulai membatasi konsumsi kol goreng dan lebih bijak dalam memilih sajian harian.
"Kalau misalnya memang makanan itu enak banget, kamu harus curiga. Berarti itu kebanyakan lemak, kebanyakan natrium, atau kebanyakan karbohidrat," katanya.
Simak Video ""
[Gambas:Video 20detik](aur/up)