Dalam perkembangan terbaru yang kami liput,
Stroke selama ini kerap diidentikkan sebagai penyakit yang mengintai golongan usia lanjut atau lansia. Tetapi, dugaan tersebut perlahan mulai terpatahkan, seiring meningkatnya kasus stroke yang menyerang golongan usia muda.
"Meskipun stroke secara tradisional dianggap sebagai penyakit orang tua, temuan kami menunjukkan bahwa stroke makin umum terjadi pada orang dewasa muda," terang peneliti utama dari University of Cincinnati, dr Emily R Fisher, MD.
Kenaikan kasus stroke iskemik di kalangan anak muda tercatat melonjak hingga dua kali lipat, dari 23,8 kasus menjadi 47,3 kasus per 100.000 orang.
Studi yang dipublikasikan di jurnal medis Neurology tersebut mengungkapkan bahwa tren ini memicu kekhawatiran baru di dunia medis. Sebab, makin banyak anak muda yang berisiko hidup dengan komplikasi atau disabilitas jangka panjang dampak stroke.
"Di saat yang sama, makin banyak orang yang selamat dari serangan stroke ini. Artinya, makin banyak anak muda yang bakal hidup membawa dampak jangka panjang dari stroke," lanjutnya.
Tekanan Darah Tinggi Hingga Penyalahgunaan Zat
Lantas, apa pemicu utama yang bikin kasus stroke usia muda meroket?
Meski begitu, dr Fisher mengingatkan bahwa selamat dari serangan stroke tak selalu berguna pulih total tanpa cela. Banyak penyintas yang masih wajib berjuang mengembalikan kegunaan gerak, bicara, hingga memori tubuh dalam jangka panjang.
"Temuan kami menyoroti sungguh pentingnya mengenali dan mengontrol aspek risiko stroke sejak awal di usia dewasa," pungkas dr Fisher.
Namun pada 2020, nomor tersebut melonjak drastis hingga 40,2 persen, yang mana sebagian besar di antaranya berangkaian dengan penggunaan ganja.
- Tekanan hipertensi (hipertensi)
- Diabetes
- Fibrilasi atrium (gangguan irama jantung yang memicu gumpalan darah)
- Penyalahgunaan unsur terlarang atau narkoba
Salah satu lompatan nomor yang paling mencolok terjadi pada riwayat penyalahgunaan zat. Pada rentang 1993-1994, hanya sekitar 4,6 persen pasien stroke muda yang memiliki riwayat penggunaan zat.
Para peneliti mengawasi adanya peningkatan tren beberapa aspek risiko kesehatan di golongan anak muda penyintas stroke seiring berjalannya waktu, antara lain:
(sao/kna)
Peluang Sembuh Naik, Tapi Cegah Tetap Utama
Di balik berita memprihatinkan ini, studi tersebut juga membawa angin segar. Peluang kelangsungan hidup (survival rate) pasien stroke usia muda tercatat membaik dibanding tiga dasawarsa lalu.
Jenis Stroke Penyumbang Kasus Terbanyak
Dalam riset tersebut, para peneliti menganalisis informasi kasus stroke dari periode 1993 hingga 2020. Hasilnya, menunjukkan tingkat kejadian stroke pada anak muda melonjak drastis dari 33,9 kasus per 100.000 orang, menjadi 62,2 kasus per 100.000 orang.
Meski begitu, para peneliti menegaskan masih membutuhkan riset lanjutan untuk memastikan, apakah faktor-faktor risiko tersebut menjadi penyebab langsung dari lonjakan kasus stroke pada golongan usia muda.
Sebuah studi terbaru yang mengawasi informasi medis selama nyaris tiga dasawarsa menemukan kebenaran mengkhawatirkan. Angka kejadian stroke di golongan usia 20 hingga 54 tahun melonjak tajam hingga 83 persen.
Tingkat kematian pasien dalam 30 hari pascastroke menurun dari 11,7 persen menjadi 9,4 persen, terutama pada kasus stroke perdarahan (pendarahan intraserebral).
Menariknya, kenaikan ini paling dominan didorong oleh jenis stroke iskemik (stroke penyumbatan). Jenis stroke ini terjadi saat pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak tersumbat gumpalan, sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan rusak dalam hitungan menit.
Berdasarkan catatan kami, informasi ini penting untuk diketahui masyarakat luas.