Seperti yang terungkap dalam investigasi kami,
Jakarta -
Kebakaran hutan dan lahan juga membawa ancaman langsung terhadap kesehatan orang utan. Wisnu menyebut gangguan yang paling sering ditemukan antara lain iritasi mata dan jangkitan saluran pernapasan.
Menurut Wisnu, petugas umumnya hanya menemukan satwa yang berada di area yang mudah dijangkau manusia, seperti jalur yang sering dilalui.
Gangguan pernapasan tersebut bahkan dapat berujung pada kematian. Namun, jumlah orang utan yang mati dampak kebakaran hutan dan lahan diperkirakan lebih besar daripada yang sukses ditemukan dan tercatat.
Sementara itu, sebagian besar kediaman orang utan berada di kawasan hutan yang luas dan sulit dipantau.
"Ketika satwa turun ke bawah dan menginjak tanah, banyak kakinya yang terkena luka bakar karena lahan gambut menyimpan bara di dalam tanah," kata dia.
"Yang jadi masalah beberapa petugas itu hanya menemukan beberapa di jalur jalan yang sering dilalui manusia, tetapi yang jutaan hektare ya. Kalau di Kalimantan habitatnya orang utan itu 1,9 juta hektare ya. Kalau di Sumatera sekitar lebih sedikit ya 1,1 juta hektare. Itu yang di tengah itu enggak pernah terpantau," kata dia.
Kebakaran hutan memaksa orang utan turun ke tanah mencari air, di tengah bara yang masih tersembunyi di lahan gambut. Luka bakar, gangguan pernapasan hingga kematian mengintai satwa yang kehilangan tempat berlindung.
"Misalnya di Sebangau, saya penelitian di sana ya, itu ada beberapa tanaman yang oleh masyarakat Dayak itu sebagai obat-obatan. Sumbernya dari orang utan. Dia belajar," kata dia.
Karena itu, ketika hutan terbakar dan keragaman tumbuhan menghilang, orang utan bukan hanya kehilangan sumber makanan. Mereka juga kehilangan pilihan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan tubuhnya.
"Yang ada di tengah itu enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga anggapan kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan," ujar Wisnu.
Kondisi tersebut menciptakan jumlah kematian satwa dampak kebakaran hutan sulit diketahui secara pasti. Orang utan maupun satwa liar lain yang berada jauh di dalam hutan kemungkinan tidak pernah ditemukan ketika mati.
Dia mengatakan orang utan memiliki perilaku yang dikenal sebagai self-medicated animal behavior. Istilah tersebut merujuk pada perilaku satwa yang memanfaatkan tumbuhan tertentu untuk membantu mengatasi gangguan kesehatan.
"Jadi, dia membutuhkan keragaman pakan itu sebagai obat dia kalau sakit," kata Wisnu.
Wisnu mencontohkan hasil penelitiannya di Sebangau, Kalimantan Tengah. Di kawasan tersebut, dia menemukan sejumlah jenis tumbuhan yang dimanfaatkan orang utan. Menariknya, beberapa tumbuhan yang digunakan orang utan juga dikenal masyarakat Dayak sebagai tanaman obat.
"Dari 57.000 itu yang 60%-nya itu betul-betul sangat terdampak dampak kebakaran hutan. Itu sangat berdampak sekali karena mereka itu kehilangan habitat-habitat," kata Wisnu.
Pernyataan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Drh Raden Wisnu Nurcahyo, dalam podcast UGM berjudul "Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya", yang dikutip Senin (19/10/2026).
Menurut Wisnu, dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap orang utan tidak hanya berupa hilangnya tempat tinggal. Kebakaran juga menghancurkan sumber pakan dan air yang selama ini berjuntai pada keberadaan hutan.
Namun, turun ke tanah justru membawa akibat lain. Lahan gambut yang terbakar dapat menyimpan bara di bawah permukaan, sehingga satwa yang melintas berpotensi mengalami luka bakar.
Bagi orang utan, pohon merupakan sumber makanan. Sementara itu, pucuk-pucuk pohon juga menjadi salah satu sumber air. Ketika hutan terbakar, orang utan terpaksa turun ke permukaan tanah untuk mencari air.
(fem/fem)
Wisnu menyebut kehilangan kediaman dan sumber pakan menjadi dua dampak utama kebakaran hutan terhadap orang utan. Hilangnya keragaman tumbuhan bahkan dapat mengganggu perilaku alami orang utan dalam menjaga kondisi tubuhnya.