Dalam perkembangan terbaru yang kami liput,
Kebiasaan membuka kulkas pada larut malam atau mencari camilan seperti biskuit dan keripik sebelum tidur mungkin perlu dipertimbangkan kembali. Sebuah studi baru mengaitkan kebiasaan makan di luar jam makan malam dengan peningkatan akibat dua penyakit hati (liver), ialah sirosis dan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).
"Kita berulang kali memandang bahwa waktu seseorang melakukan aktivitas, baik tidur, makan, maupun berolahraga, betul-betul berpengaruh," kata Andrew McHill, mahir fisiologi tidur dan ritme sirkadian dari OHSU.
Tubuh mempunyai sejumlah jam biologis yang mengatur bermacam-macam fungsi. Hati juga mempunyai sistem pengaturan waktu sendiri yang terhubung dengan ritme sirkadian utama tubuh.
MASLD, yang juga dikenal sebagai penyakit hati berlemak, merupakan kondisi ketika gangguan metabolisme, seperti obesitas, menyebabkan penumpukan lemak di hati. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat memicu pembentukan jaringan parut. Jika berlanjut, kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi sirosis, ialah kerusakan hati permanen yang pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan fungsi hati.
"Sejumlah penelitian telah mengisyaratkan kemungkinan ini, tetapi penelitian ini termasuk salah satu kajian jangka panjang pertama yang secara khusus mengaitkan pola tersebut dengan penyakit hati berlemak," kata mahir hepatologi Robert Wilechansky dari OHSU, dikutip dari Science Alert.
Pemahaman yang lebih baik terkait faktor pemicu dan faktor yang memperburuk kedua kondisi tersebut dapat membantu upaya pencegahan dan penyembuhan pada masa mendatang. Salah satu cara yang mungkin dapat membantu menurunkan akibat penyakit hati adalah mengatur waktu makan secara lebih disiplin, yang relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan menjalani perubahan pola makan secara menyeluruh atau rutinitas olahraga.
Median waktu pemantauan dalam penelitian ini mencapai 16 tahun. Peneliti juga memperhitungkan sejumlah faktor, termasuk usia, indeks massa tubuh (IMT), dan kegiatan fisik. Setelah faktor-faktor tersebut diperhitungkan, hubungan antara kebiasaan makan larut malam dan peningkatan akibat penyakit hati tetap signifikan secara statistik.
Ada kemungkinan hati tidak memproses makanan secara efisien ketika seseorang makan hingga larut malam. Kondisi tersebut diduga dapat meningkatkan penumpukan lemak di hati dan kadar gula darah. Namun, dugaan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Penelitian berikutnya dapat menelusuri lebih jauh jenis makanan yang dikonsumsi saat larut malam. Dalam kajian ini, peneliti mencatat waktu makan camilan, tetapi tidak mencatat jenis camilan yang dikonsumsi. Penelitian selanjutnya juga dapat mengukur parameter seperti kadar gula darah dan lemak hati secara lebih langsung.
Tim OHSU yang melibatkan Wilechansky saat ini tengah merekrut peserta untuk uji klinis yang lebih mendalam.
Para peneliti menduga ritme sirkadian, ialah siklus alami tubuh yang menyesuaikan bermacam-macam fungsi biologis dengan pergantian siang dan malam, dapat menjelaskan hubungan tersebut.
"Kita tahu bahwa hati sangat selaras dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, kami tertarik meneliti perubahan waktu makan yang berpotensi memberikan kegunaan bagi kesehatan tanpa wajib mengubah komposisi makanan yang dikonsumsi."
(suc/suc)
Peneliti dari Oregon Health and Science University (OHSU) dan Massachusetts General Hospital menemukan, orang yang makan larut malam mempunyai akibat sirosis 28 persen lebih tinggi dan akibat MASLD 36 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang mempunyai waktu makan lebih teratur.
Dalam penelitian ini, makan larut malam didefinisikan sebagai kebiasaan makan setelah waktu tidur atau di antara waktu makan malam dan tidur.
Meski demikian, sirosis tetap tergolong jarang terjadi. Selama periode pemantauan, tercatat 315 kasus sirosis dari hampir 200.000 peserta.
Meski penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para peneliti menduga perbedaan cara tubuh memproses makanan pada malam hari mungkin berperan. Faktor lain juga dapat memengaruhi hasil, termasuk waktu dan kualitas tidur yang tidak diperhitungkan dalam kajian ini.
"Temuan kami menambah bukti ilmiah yang terus berkembang terkait hubungan antara pola makan pada malam hari dan dampak jelek terhadap metabolisme serta kesehatan hati," tulis para peneliti dalam publikasi mereka.
"Hubungan ini masuk akal secara biologis. Asupan kalori yang lebih tinggi pada malam hari dapat berkontribusi terhadap obesitas dan gangguan metabolisme melalui penurunan sensitivitas insulin serta penggunaan daya yang lebih rendah pada malam hari."
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology ini menganalisis informasi dari 199.155 orang dengan usia median 59 tahun. Para peserta terdaftar dalam penelitian kesehatan yang sedang berlangsung dan mengisi kuesioner terkait pola makan serta gaya hidup setiap 2-4 tahun.
"Dampak konsumsi makanan pada malam hari terhadap penyakit hati perlu diteliti lebih lanjut pada populasi yang beragam, dengan melibatkan pencitraan hati dan penanda tingkat keparahan penyakit hati," tulis para peneliti.
"Jika hasil ini terkonfirmasi, temuan tersebut berpotensi memengaruhi rekomendasi pola makan bagi pasien dengan penyakit hati kronis."
Kami akan terus memantau perkembangan situasi ini.