BeritaDuniaTerbaru.com, JAKARTA -- Transformasi digital disebut tidak cukup hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Kesiapan sumber daya manusia, kemampuan beradaptasi, serta integritas kepemimpinan menjadi faktor penting agar perubahan dapat memberikan dampak nyata bagi organisasi.
Hal tersebut mengemuka dalam ITC Leadership Conclave 2026 yang menghadirkan dua sesi diskusi panel mengenai tantangan transformasi organisasi dan pengembangan kapabilitas manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Panel pertama bertajuk "Beyond Adoption: Transforming Work, Search for Talent, and Customer & Employee Engagement Through Intelligent Technologies" membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi cerdas dalam mengubah pola kerja organisasi.
Diskusi mencakup pemanfaatan teknologi untuk proses rekrutmen dan pengembangan talenta, peningkatan keterlibatan karyawan dan pelanggan, hingga produktivitas operasional. Penerapan teknologi yang bertanggung jawab dan sesuai kebutuhan bisnis juga menjadi perhatian utama dalam sesi tersebut.
Sementara itu, panel kedua bertajuk "Promoting Adaptive Human Skills: Encouraging Judgment & Discernment, Developing an Internal Compass, and Requiring Relevant Professional Development" menyoroti pentingnya penguatan keterampilan manusia di era teknologi.
Kemampuan berpikir kritis, pertimbangan etis, adaptabilitas, resiliensi, dan pembelajaran berkelanjutan dinilai semakin dibutuhkan. Pengembangan keterampilan tersebut juga penting untuk mempersiapkan generasi profesional berikutnya menghadapi perubahan dunia kerja.
CEO International Test Center (ITC) Jenny Lee mengatakan, kalibrasi menjadi salah satu kunci menghadapi perubahan dan ketidakpastian global. Menurut dia, para pemimpin perlu terus melakukan kalibrasi diri agar mampu menyesuaikan strategi organisasi dengan perkembangan zaman.
"Sebagai pemimpin, kita harus durable. Ini bukan soal seberapa lama atau cepat seseorang menjadi pemimpin. Prinsipnya, semua bisa menjadi guru dan semua juga harus mau menjadi murid,"ujar Jenny Lee, Sabtu (17/10/2026).
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang turut hadir dalam forum tersebut menilai, Indonesia perlu menemukan cara mengoptimalkan keunggulan teknologi AI sekaligus mempertahankan peran manusia dalam dunia kerja.
Menurut dia, perkembangan AI memang berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja, bahkan memunculkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, teknologi juga membuka peluang baru yang perlu dipersiapkan melalui pengembangan kompetensi dan jejaring.
"Prinsipnya, semua jadi murid dan semua jadi guru. Kita tarik pembelajaran dari situ. Tujuannya supaya menemukan satu formula agar Indonesia bisa bertahan,"kata Ahok.
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan etika bagi seorang pemimpin. Tekanan lingkungan dan situasi yang terus berubah dapat membuat seseorang kehilangan arah, termasuk melupakan visi awal yang menjadi landasan kepemimpinannya.
Karena itu, Ahok mengajak para pemimpin melakukan kalibrasi diri agar tetap berpegang pada nilai-nilai dasar, termasuk empati dan etika. Dia mengibaratkan proses tersebut seperti kalibrasi alat ukur agar kembali pada standar yang tepat. Dalam konteks manusia, salah satunya dapat dilakukan melalui meditasi dan refleksi untuk mengembalikan diri pada nilai-nilai yang diyakini.
"AI tidak bisa memiliki empati dan etika seperti manusia. Jadi, kita harus kembali menjadi manusia. Dengan begitu, kita tidak hanya melihat kesalahan orang lain atau mengkritik, tetapi juga memberikan solusi dan menyelesaikan masalah bersama,"ucapnya.
Ahok berharap diskusi mengenai kepemimpinan dan transformasi organisasi tidak berhenti pada gagasan, tetapi juga menghasilkan solusi konkret bagi berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia.
Melalui ITC Leadership Conclave 2026, ITC berupaya menghadirkan ruang dialog dan pertukaran pengetahuan lintas sektor untuk memperkuat kepemimpinan, pengembangan organisasi, serta transformasi SDM Indonesia.
Forum tersebut menegaskan bahwa masa depan dunia kerja membutuhkan keseimbangan antara kompetensi teknologi dan kapabilitas manusia. Transformasi digital diharapkan tidak hanya menghasilkan efisiensi, tetapi juga melahirkan talenta yang adaptif, berdaya saing, dan memiliki integritas dalam menghadapi tantangan masa depan.