Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com — Sierra Leone, negara kecil di Afrika Barat, kini dijuluki sebagai "negara narkoba sejati". Julukan itu bukan tanpa alasan. Pengangkutan kokain dalam jumlah besar dari Sierra Leone ke sejumlah negara Eropa terus terjadi. Liputan investasi The Guardian bahkan menyebut sosok yang mengendalikan negara itu bukanlah Presiden Julius Maada Bio, melainkan menantunya, Jos Leijdekkers.
Di usia 35 tahun, Leijdekkers disebut sebagai raja kokain terkemuka di Eropa. Penilaian intelijen menyebutkan bahwa pria berkebangsaan Belanda itu mengimpor volume kokain yang sangat besar hingga berulang kali menyebabkan pasar kokain Eropa anjlok. Pada 2025, ia disebut berhasil menurunkan harga grosir narkoba tersebut hingga setengahnya. Sejumlah sumber intelijen mengonfirmasi bahwa ia telah mengubah Sierra Leone menjadi negara narkoba sejati pertama di dunia.
"Ini adalah penguasaan negara oleh jaringan kriminal dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata seorang pejabat Barat.
Setidaknya 14 orang dilaporkan tewas di Sierra Leone atas perintah Leijdekkers. Sejumlah perwira polisi berpangkat tinggi diyakini telah dibunuh atas perintahnya. Para perwira tersebut disebut telah melarikan diri dari negara itu karena khawatir menjadi korban selanjutnya.
"Jika Anda menghalangi jalannya, dia akan menghabisi Anda," kata seorang sumber intelijen, sebagaimana diberitakan The Guardian.
Sumber-sumber intelijen juga memperingatkan bahwa jaringan Leijdekkers terus berkembang pesat. "Seluruh wilayah Afrika Barat berada dalam risiko," tutur seorang pejabat Belanda.
Ketika badan intelijen Belanda melacak Leijdekkers ke Sierra Leone pada 2024, ia disebut telah membangun sesuatu yang luar biasa dari nol: sebuah kerajaan kokain yang luas.
"Dia sangat mahir dalam beradaptasi dan membina hubungan. Ini negara baru, tetapi dia berhasil memenangkan hati orang-orang paling berpengaruh di sana," kata seorang pejabat.
Salah satu cara Leijdekkers menjaga pengaruhnya adalah dengan menikahi putri Presiden Julius Maada Bio, Agnes Bio, dan memulai sebuah keluarga. Para pejabat tinggi Sierra Leone disebut berpesta dengan orang kaya baru itu. Kepala imigrasi bahkan mengurus paspor diplomatiknya. Personel yang seharusnya menyelidiki penyelundup kokain justru menjadi teman minumnya.
Menurut informasi intelijen, Leijdekkers menghasilkan keuntungan bulanan sebesar 150 juta dolar AS (sekitar Rp2,5 miliar), lebih besar dibandingkan biaya operasional seluruh negara Sierra Leone. Ratusan orang disebut berada dalam daftar gajinya, termasuk tokoh-tokoh senior militer dan kepolisian.
Yang paling diincar Leijdekkers adalah pelabuhan Freetown, yakni Dermaga Queen Elizabeth II, yang terletak strategis di antara Amerika Selatan—penghasil kokain—dan pasar Eropa yang sedang berkembang pesat.
Pada Agustus 2023, paman istrinya, Yankuba Bio, ditunjuk menjadi kepala pelabuhan. Yankuba Bio membantah memiliki hubungan dekat dengan siapa pun yang bernama atau diidentifikasi sebagai Jos Leijdekkers. Namun, menurut sumber-sumber yang ditemui The Guardian, para pejabat pelabuhan yang digaji Leijdekkers menerima bayaran 2.000 dolar AS per bulan, lebih dari 30 kali rata-rata pendapatan nasional.
Pada Januari 2025, Belanda mengirimkan permintaan ekstradisi ke Sierra Leone untuk buronan tersebut yang telah dijatuhi hukuman secara in absentia lebih dari 100 tahun penjara atas kejahatan termasuk percobaan pembunuhan.
Sierra Leone membantah mengenal pria itu. Bagi Leijdekkers, kondisi itu menjadi momen penting: ia mendapat perlindungan dari negara.
Kepercayaan dirinya semakin memuncak ketika kapal kargo berwarna hijau sepanjang lapangan sepak bola, Arconian, berlabuh di pelabuhan Freetown pada 18 April 2026. Selama empat hari berikutnya, sekitar 30 ton kokain diangkut ke atas kapal tersebut, menurut intelijen Barat.
(imf/bac)