Brussels, BeritaDuniaTerbaru.com -- Kerusuhan yang melanda Prancis mulai menjalar ke negara tetangga, Belgia. Ratusan orang, sebagian besar anak muda, turun ke jalan di Brussels pada Sabtu (17/10) untuk berdemonstrasi, dan sejumlah peserta bentrok dengan polisi.
Massa berkumpul di pusat kota Brussels dengan banyak di antara mereka memakai masker dan meneriakkan slogan antifasis. Kerusuhan di ibu kota Belgia itu disebut sebagian terinspirasi dari gerakan protes di Prancis, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Petugas polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Saksi mata menyebutkan bahwa sebagian demonstran membalikkan sebuah kendaraan roda empat di lokasi.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin melalui unggahannya di platform X mengecam peristiwa tersebut. Ia menyatakan apa yang terjadi di Brussels "bukan lagi sekadar protes" dan berjanji "segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban dalam menghadapi para perusuh".
Kelompok mahasiswa Belgia menyatakan mereka memprotes kenaikan biaya pendidikan serta reformasi yang dikhawatirkan makin menyulitkan akses terhadap pendidikan tinggi. Demo juga berlangsung di Liège, kota yang terletak di timur Belgia. Sebelumnya awal bulan ini, mahasiswa di kota tersebut telah memprotes sistem pendidikan berbahasa Prancis dengan alasan biaya yang terus naik serta sulitnya mengakses bahan ajar.
Situasi di Prancis
Di Prancis, Agencia France-Presse memberitakan bahwa demonstran membakar kantor pariwisata di Lyon pada hari yang sama, di tengah aksi nasional menentang mahalnya biaya hidup. Di Paris, sebuah mobil dan kios penjualan koran dibakar. Polisi memakai gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok berpakaian masker yang berkumpul di Place de la République, sebagaimana dilaporkan Washington Post.
Di Marseille, sejumlah toko dan kantor polisi kota mengalami kerusakan. Beberapa demonstran bahkan sempat menerobos masuk ke lobi Balai Kota sebelum berhasil dihentikan.
Kantor Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mencatat terdapat 140 aksi demonstrasi di luar wilayah Paris hingga siang hari dengan total peserta melebihi 30.000 orang. Sedikitnya 166 orang ditangkap di seluruh negeri sebagai imbas dari kerusuhan tersebut.
Kerusuhan di Prancis bermula bulan lalu sebagai bentuk protes terhadap pendanaan pendidikan dan kondisi sekolah. Gerakan ini kemudian meluas menjadi aksi menyoal ketimpangan ekonomi, belanja publik, serta standar hidup masyarakat.
Demonstran Prancis juga menjawab seruan di media sosial untuk menghidupkan kembali gerakan rompi kuning. Serikat buruh CGT turut mendukung dengan menuntut kenaikan upah dan pensiun, penurunan harga, serta perlindungan layanan publik yang memadai bagi masyarakat.
Sehari sebelum demonstrasi berlangsung, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan ketenangan kepada seluruh pihak.
"Terdapat hak konstitusional untuk berdemonstrasi dan menyampaikan pendapat. Namun, hak ini disertai kewajiban untuk menghormati. Menghormati orang lain, menghormati properti, dan berkomitmen untuk tidak menghina atau merusak," kata Macron di Brussels, Jumat (16/10).
(fea)