Jelajahi BDT NEWS

Karateka Indonesia Raih Medali Perunggu Kejuaraan Dunia Junior 2026

Indonesia membawa satu medali perunggu dari Kejuaraan Dunia Karate Junior 2026. Dia adalah atlet kata perorangan putri Zaskia Putri Salurante.

sport.detik.com (Sumber) via Detik Sport • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 58 menit yang lalu
3 menit baca 0

Bielsko-Biala - Indonesia membawa satu medals perunggu dari Kejuaraan Dunia Karate Junior 2026. Medalis tersebut adalah atlet kata perorangan putri Zaskia Putri Salurante.

Zaskia menjadi salah satu dari 11 karateka Indonesia yang diturunkan pada Kejuaraan Dunia Karate Junior 2026 yang berlangsung di Bielsko-Biala, Polandia, pada 14-18 Oktober.

Zaskia memastikan tempat di podium dunia setelah memenangkan pertandingan perebutan medal perunggu, Sabtu (17/10). Pencapaian ini menjadi bukti bahwa atlet-atlet muda Indonesia mampu bersaing dengan karateka terbaik dari berbagai negara.

Perjalanan Zaskia dimulai pada babak eliminasi, Kamis (15/10). Ia menampilkan kata Kanku Sho dan mengalahkan Aurelija Ivanova dari Latvia dengan skor 5-0. Zaskia kemudian menundukkan Isabella Sanchez dari Amerika Serikat 5-0, Chiara Brandauer dari Portugal 4-1, dan Belen Guzman Vergara dari Republik Dominika 4-1.

Pada semifinal, Zaskia harus mengakui keunggulan Wakana Ito dari Jepang dengan skor 0-5. Namun, dia bangkit pada pertandingan perebutan medal perunggu dan berhasil mengalahkan Rocio Castro Lopez dari Spanyol untuk mengamankan podium dunia.

Manajer Tim Nasional Karate Indonesia sekaligus Head of Delegation, Harmen Saputra, menyampaikan rasa bangga atas perjuangan seluruh atlet yang mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia tersebut.

"Kami tentu sangat bangga dengan hasil yang dicapai tim Indonesia, khususnya Zaskia Putri Salurante yang berhasil meraih medal perunggu dunia di kategori Junior Female Kata. Ini merupakan hasil yang sangat berarti bagi kontingen Indonesia," ujar Harmen.

Harmen menjelaskan bahwa persiapan tim nasional menghadapi kejuaraan dunia kali ini tergolong singkat. Para atlet menjalani pemusatan latihan atau Training Camp (TC) selama kurang lebih dua minggu sebelum bertolak ke Polandia.

"Dengan persiapan TC yang relatif singkat, sekitar dua minggu, kami tentu sangat bersyukur masih bisa membawa pulang medal dari kejuaraan dunia. Ini merupakan hasil kerja keras atlet, pelatih, dan seluruh tim yang telah berjuang maksimal," lanjut Harmen.

Meskipun demikian, Harmen mengakui bahwa masih terdapat sejumlah aspek yang harus menjadi perhatian, khususnya pada nomor kumite yang belum berhasil mempersembahkan medal.

"Untuk kategori kumite, kali ini memang belum menjadi rezeki kita. Namun, hasil ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Kita melihat banyak atlet dari negara lain memiliki keunggulan postur tubuh yang lebih tinggi serta jangkauan serangan yang lebih panjang. Ini merupakan tantangan yang harus kita jawab melalui peningkatan strategi, teknik, kecepatan, pengaturan jarak, dan kualitas latihan," jelas Harmen.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PB FORKI Bidang Luar Negeri, Ricky Muchtar, menegaskan bahwa keberhasilan Zaskia bukanlah prestasi yang datang secara instan.

Menurut Ricky, perjalanan panjang Zaskia, yang akrab dipanggil Keong, merupakan contoh nyata pentingnya pembinaan atlet secara konsisten dan berkelanjutan melalui pengalaman kompetisi internasional.

"Prestasi Keong hari ini tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil dari proses pembinaan yang panjang. Kami sudah beberapa kali memberikan kesempatan kepada Keong untuk mengikuti berbagai kejuaraan internasional yang diselenggarakan World Karate Federation,"ujar Ricky.

Ricky juga berharap prestasi Zaskia dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan karate Indonesia, khususnya dalam mempersiapkan atlet usia muda menuju level senior. Menurut Ricky, pengalaman mengikuti kompetisi internasional harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan semata-mata berdasarkan keberhasilan membawa pulang medal dalam satu pertandingan.

"Kita tidak bisa mengharapkan seorang atlet langsung menjadi juara dunia hanya dengan satu atau dua kali mengikuti pertandingan internasional. Mereka membutuhkan proses, pengalaman, kesempatan untuk kalah, belajar, memperbaiki diri, dan kembali bertanding. Itulah bagian penting dari pembinaan," tutur Ricky.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK