BeritaDuniaTerbaru.com
Minggu, 18 Okt 2026 06:55 WIB
Ilustrasi. Sebagian gen Z di media sosial tengah tertarik dengan tren pheromone-maxxing atau pilihan untuk tidak mandi demi menonjolkan aroma alami tubuh. (iStock/Doucefleur)
Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com --
Rutinitas mandi merupakan kebiasaan基本 yang dilakukan sebagian besar orang untuk menjaga kebersihan dan kesegaran tubuh. Namun, fenomena berbeda muncul di kalangan sebagian anak muda di media sosial yang justru sengaja menghindari kebiasaan tersebut.
Sebuah tren yang dikenal sebagai pheromone-maxxing tengah ramai dibahas di platform seperti TikTok. Mengacu pada laporan New York Post, para pengikut tren ini percaya bahwa aroma alami tubuh, termasuk bau keringat, dapat meningkatkan daya tarik terhadap lawan jenis.
Atas dasar keyakinan itu, mereka mengurangi kebiasaan menjaga kebersihan tubuh. Beberapa di antaranya melewatkan mandi, tidak menggunakan deodoran maupun parfum, hingga metode yang lebih ekstrem seperti mengenakan pakaian yang belum dicuci.
Apa itu pheromone-maxxing?
Pheromone-maxxing merupakan tren yang berkembang di media sosial dengan anggapan bahwa aroma alami tubuh laki-laki mampu meningkatkan daya tarik seksual. Para pendukungnya meyakini semakin kuat aroma alami tubuh, semakin besar peluang menarik perhatian lawan jenis.
Tren ini memiliki kaitan dengan komunitas looksmaxxing, yaitu gerakan yang mendorong berbagai cara untuk memaksimalkan penampilan fisik agar terlihat lebih menarik. Perbedaannya, pheromone-maxxing berfokus pada aroma tubuh, bukan penampilan fisik.
Perlu dicatat, meskipun tren ini ramai diperbincangkan, tren tersebut tidak diikuti oleh mayoritas generasi Z. Sejumlah pengguna media sosial bahkan mengakui bahwa konten semacam ini dibuat sekadar untuk meningkatkan interaksi dan menarik perhatian, bukan sebagai anjuran gaya hidup yang serius untuk diikuti.
Benarkah aroma tubuh bisa menarik pasangan?
Di balik tren tersebut, terdapat istilah yang menjadi dasar keyakinan para pengikutnya, yaitu feromon.
Feromon merupakan senyawa kimia yang dilepaskan oleh suatu organisme dan dapat memengaruhi respons atau perilaku organisme lain dari spesies yang sama. Peran feromon telah banyak diteliti pada hewan dan serangga.
Pada manusia, aroma tubuh memang diketahui dapat memengaruhi respons orang lain. Bau tubuh dan sekresi manusia berpotensi memicu respons fisiologis maupun psikologis tertentu.
Salah satu senyawa yang pernah diteliti adalah androstadienone, yang ditemukan dalam keringat laki-laki. Senyawa ini diduga berpotensi memengaruhi cara seseorang merespons orang lain.
Dengan demikian, aroma tubuh mungkin memang berperan dalam cara seseorang merespons orang lain. Namun, hal itu tidak berarti bau badan yang sengaja dibiarkan tanpa kebersihan打理 otomatis membuat seseorang lebih menarik.
Salah satu penelitian yang kerap dibahas dalam konteks ini adalah eksperimen yang dikenal sebagai 'sweaty T-shirt study' pada 1995. Dalam penelitian tersebut, sejumlah laki-laki diminta mengenakan kaus yang sama selama dua malam berturut-turut. Setelah itu, partisipan perempuan diminta mencium dan menilai aroma dari enam kaus yang telah digunakan.
Hasilnya, perempuan cenderung menilai aroma tubuh laki-laki dengan gen major histocompatibility complex (MHC) yang berbeda dari gen mereka sendiri sebagai lebih menyenangkan. MHC merupakan kelompok gen yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Temuan ini memunculkan dugaan bahwa perbedaan gen tertentu mungkin berkaitan dengan preferensi manusia terhadap aroma tubuh calon pasangan.
(anm/asr)