Jelajahi BDT NEWS

Demonstran Bakar Kantor Pariwisata di Lyon Prancis

Demonstran membakar kantor pariwisata di Lyon, Prancis, di sela demo biaya hidup nasional. Ricuh juga terjadi di Paris dan Marseille.

cnnindonesia.com (Sumber) via CNN Indonesia Internasional • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 3 jam yang lalu
2 menit baca 0

BeritaDuniaTerbaru.com, Lyon —

Demonstran membakar kantor pariwisata di Lyon, Prancis, pada Sabtu (17/10). Aksi itu terjadi di sela demonstrasi nasional menentang tingginya biaya hidup.

Peristiwa tersebut disaksikan langsung reporter AFP. Kebakaran terjadi di sebuah alun-alun di pusat kota, saat kelompok pemuda berpenutup kepala melempari polisi dengan proyektil dan mortir kembang api.

Polisi membalas dengan gas air mata, granat pembubar massa, dan meriam air. Asap dan api terlihat membubung dari gedung tersebut.

Ricuh di sejumlah kota

Washington Post memberitakan bahwa kericuhan juga pecah di kota-kota besar lain. Di Paris, sebuah mobil dan kios koran dibakar, sementara polisi memakai gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok bermasker di Place de la République.

Di kota pelabuhan Marseille, sejumlah toko dan kantor polisi kota rusak. Sebagian demonstran bahkan sempat menerobos masuk ke lobi Balai Kota.

Kantor Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mencatat 140 aksi di luar wilayah Paris hingga siang hari, dengan lebih dari 30.000 peserta. Otoritas melaporkan sedikitnya 166 orang ditangkap di seluruh negeri.

Kantor Nuñez juga menyoroti kekerasan oleh orang-orang bermasker di Paris, Marseille, Rennes, Toulouse, dan Angers.

Seruan rompi kuning

Para demonstran menjawab seruan di media sosial untuk menghidupkan kembali gerakan rompi kuning, yang muncul pada 2018 menentang ketidakadilan sosial. Kelompok pelajar yang memblokade sekolah sejak pertengahan September juga mengajak pendukungnya bergabung.

Serikat buruh CGT turut mendukung aksi ini. Mereka menuntut "upah dan pensiun yang lebih tinggi, harga yang lebih rendah, serta perlindungan layanan publik yang memenuhi kebutuhan masyarakat".

Dalam beberapa pekan terakhir, Prancis diwarnai ribuan penangkapan, ratusan korban luka, hingga pembakaran sekolah seiring meluasnya protes pelajar.

Luka parah yang dialami sejumlah remaja disebut akibat senjata pengendali huru-hara polisi. Nuñez menangguhkan penggunaan satu jenis granat kejut terhadap demonstran muda setelah seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangan.

Pada Selasa (13/10), aktivis Greta Thunberg juga bergabung dengan para pelajar di sebuah SMA di Saint-Denis, pinggiran Paris.

Sehari sebelum demo, Presiden Emmanuel Macron menyerukan ketenangan.

"Ada hak konstitusional untuk berdemonstrasi dan menyampaikan pendapat. Namun, hak ini disertai kewajiban untuk menghormati. Menghormati orang, menghormati properti, dan karena itu berkomitmen untuk tidak menghina atau merusak," kata Macron di Brussel, Jumat (16/10).

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK