Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com —
Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Otoritas dan pelaku pasar diminta tetap tenang serta rasional dalam merespons langkah tersebut.
Analis Pasar Modal Hans Kwee menjelaskan, pengumuman MSCI itu masih berstatus pembukaan konsultasi publik (market consultation) yang dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027. Keputusan akhir baru bakal diumumkan Ende Juni 2027.
"Sampai hari ini dan hingga pertengahan 2027 nanti, status Indonesia tetap resmi berada di Emerging Market," jelas Hans dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).
Hans menegaskan, kekhawatiran atas proposal penurunan kelas ini sangat tidak mendasar dan tidak mencerminkan realitas pasar modal Indonesia. Ia merujuk pada respons lembaga indeks global lainnya, FTSE Russell, yang memberikan apresiasi positif terhadap langkah-langkah reformasi yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO).
FTSE mempertahankan status Indonesia di Secondary Emerging Market tanpa memasukkan Indonesia ke dalam Watch List. Apresiasi itu diberikan berkat transparansi data investor, ketentuan free float, dan pengawasan bursa yang semakin solid.
Hans menilai, kondisi ini menjadi kesempatan emas selama enam bulan ke depan untuk membuktikan secara empiris bahwa pasar modal Indonesia berfundamental kokoh, tumbuh positif, dan sangat layak berada di kategori Emerging Market.
"Pengumuman konsultasi dari MSCI ini terasa kontras dan tidak sejalan dengan apresiasi objektif yang telah diberikan oleh lembaga indeks global lainnya seperti FTSE Russell," katanya.
Secara kapitalisasi pasar, Indonesia dinilai sudah terlalu besar untuk diturunkan ke posisi standalone yang umumnya dihuni oleh pasar modal negara-negara dengan kapitalisasi kecil.
"Sangat tidak layak dan sangat tidak realistis. Dari kriteria kuantitatif MSCI sendiri, syarat minimal untuk berada di Emerging Market adalah memiliki setidaknya 3 saham yang memenuhi kriteria Standard Index. Indonesia saat ini memiliki 9 saham yang jauh melampaui standar tersebut," tutur Hans.
Ia menambahkan, dari sisi makroekonomi, Indonesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di kawasan dengan pertumbuhan di atas 5 persen dan inflasi yang sangat terkendali.
Menyeragamkan atau menurunkan kelas pasar modal Indonesia ke kategori Standalone Market yang umumnya diisi oleh pasar-pasar relatif terisolasi atau berukuran sangat kecil dinilai hampir tidak mungkin dan tidak proporsional.
"Ukuran pasar, tingkat likuiditas harian, dan kedalaman industri keuangan kita jauh melampaui kriteria Standalone maupun Frontier Market," tambah Hans.
Mengutip catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 15 Oktober mencapai US$ 572 miliar. Di level Asia Tenggara, IHSG berada di peringkat kedua, hanya kalah dari bursa saham Singapura.
Selain itu, sudah terdapat 1.017 perusahaan terbuka yang mencatatkan sahamnya di BEI. Dari jumlah tersebut, 956 perusahaan merupakan emiten saham aktif yang memiliki kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala. Sisanya mencakup Exchange Traded Fund (ETF), Real Estate Investment Trust (DIRE), dan waran terstruktur.