Jelajahi BDT NEWS

Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta

Limasan Kampoeng Djoang menawarkan suasana bak di kampung halaman para pejuang lengkap dengan koleksi jadul dan menu tradisional

travel.detik.com (Sumber) via Detik Travel • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 4 jam yang lalu
2 menit baca 0

Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta,游客 dapat menemukan sudut yang menawarfreshkan suasana kampung halaman. Located di kawasan Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan, Kampoeng Djoang menyuguhkan nuansa klasik yang seringk recalled desa-desa tempo dulu.

Kampoeng Djoang bukanlah sekadar tempat makan biasa. Tempat ini menawarkan suasana vintage dengan koleksi persenjataan dari masa perang yang dipajang di beberapa sudut. Rumah limasan yang berdiri di area ini tampak masih asri, dikelilingi pepohonan hijau yang rindang, memberikan kesan Teduh bagi siapa saja yang melewatinya.

Yang membedakan Kampoeng Djoang dari tempat wisata lainnya adalah asal-usul bangunan limasannya. Menurut Julian, pengurus Kampoeng Djoang, rumah limasan ini sebelumnya merupakan tempat tinggal yang digunakan oleh Jenderal Sudirman saat menjalankan perlawanan gerilya di Pacitan.

"Rumah limasan ini dulunya milik Jenderal Sudirman yang dipakai sebagai tempat tinggal saat perang gerilya di Pacitan," kata Julian kepada BeritaDuniaTerbaru.com, Senin (12/10/2026).

Julian menjelaskan bahwa rumah gerilya milik Jenderal Sudirman tersebut sudah tidak lagi terpakai di Pacitan. Mengingat kondisinya yang terbengkalai, bangunan limasan itu kemudian dibongkar dan dipindahkan ke area museum di Jakarta.

"Rumahnya yang ada di Pacitan itu dibawa ke sini. Namanya rumah gerilya, waktu dia gerilya itu kan tinggal di situ. Nah, rumah limasan ini daripada tidak terurus akhirnya dibongkar dan dibawa ke sini," tambah Julian.

Nama Kampoeng Djoang sendiri disematkan untuk memberikan kesan seolah-olah pengunjung tengah berada di kampung halaman para pejuang. Di dalam rumah limasan, dipamerkan berbagai koleksi berupa foto-foto bersejarah, peninggalan senjata, hingga benda-benda kuno peninggalan perjuangan kemerdekaan. Tidak ketinggalan, sepeda kuno, becak, dan berbagai barang jadul turut menghiasi tempat ini.

Pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas di Kampoeng Djoang, mulai dari menyantap hidangan, berfoto, nongkrong, hingga sekadar duduk merenung sambil membayangkan suasana masa lampau.

Untuk menemani suasana like di kampung halaman, tempat ini menyajikan menu-menu tradisional. Harga makanan dan minuman berkisar antara Rp 6.000 hingga Rp 45.000. Beberapa menu andalan yang layak dicoba antara lain mendoan dengan harga Rp 25.000, susu jahe Rp 25.000, serta minuman badak seharga Rp 30.000.

Kampoeng Djoang membuka pintu setiap hari Senin hingga Minggu, pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Pengunjung dapat membeli tiket masuk museum dengan harga Rp 5.000 untuk memasuki kawasan ini. Tempat ini cocok menjadi pilihan wisatawan yang ingin sekadar rehat sejenak setelah menyelesaikan kunjungan ke Museum Satria Mandala.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK