Jelajahi BDT NEWS

Antrean BBM Bikin Bali Macet, ASITA: Belum Ada Pembatalan Wisata, tapi...

Krisis BBM di Bali berdampak pada wisata. ASITA Bali menyebut belum ada pembatalan, tetapi rute perjalanan harus disesuaikan dengan kondisi lalu lintas.

travel.detik.com (Sumber) via Detik Travel • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 16 jam yang lalu
2 menit baca 0

Denpasar -

Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai memberikan dampak nyata terhadap aktivitas perjalanan wisatawan. Kendati belum ada pembatalan kunjungan secara masif, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali memastikan biro perjalanan harus melakukan penyesuaian signifikan terhadap rencana perjalanan akibat kemacetan panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra mengungkapkan bahwa biro perjalanan saat ini menghadapi tantangan besar dalam mengatur jadwal tour karena antrean kendaraan yang mengular di sekitar SPBU. Kondisi ini memaksa operator untuk memutar otak agar agenda liburan wisatawan tetap dapat terlaksana.

"Sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, kita bawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit crowded-nya," kata Winastra saat ditemui di Jimbaran, Kabupaten Badung, Sabtu (17/10/2026).

Winastra mencontohkan, wisatawan yang sebelumnya dijadwalkan berkunjung ke kawasan Tanah Lot kini dialihkan ke destinasi lain dengan jarak tempuh lebih dekat. Perubahan rute ini dilakukan agar perjalanan tidak terhambat oleh kemacetan yang terjadi di sejumlah titik.

"Perubahan tur ada yang tadinya ke Tanah Lot karena macet, dia berubah ke tempat yang lebih dekat dan sebagainya," jelas Winastra.

Sejauh ini, wisatawan yang sudah berada di Bali disebut dapat memahami situasi tersebut. Biro perjalanan, kata Winastra, juga menyampaikan kondisi lalu lintas secara terbuka kepada wisatawan sehingga perubahan rencana tidak berujung pada pembatalan seluruh agenda liburan.

Namun, Winastra menegaskan bahwa kemacetan akibat antrean BBM tetap menjadi perhatian serius. Ia menceritakan bahwa bahkan anggota ASITA sendiri pernah kesulitan menjangkau Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akibat situasi tersebut.

"Harapan kami adalah ruas jalan yang memang dipakai untuk berjalan ke tempat-tempat yang misalnya bandara, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisawatan tidak bisa terbang," katanya.

Winastra menilai apabila kemacetan ini berlangsung berkepanjangan, dampaknya terhadap kunjungan wisatawan akan semakin sulit diprediksi. Ia menjelaskan bahwa apabila situasi semakin memburuk dan memenuhi kriteria tertentu, ASITA bakal menyampaikan kepada mitra perjalanan di luar negeri bahwa kondisi ini merupakan keadaan darurat yang berada di luar kendali pelaku usaha atau force majeure.

"Harapannya, hal ini jangan sampai terlalu lama agar kita juga bisa menyampaikan kepada partner di luar negeri bahwa situasi ini adalah force majeure," tutur Winastra.

Winastra menekankan bahwa kelancaran akses transportasi merupakan faktor krusial dalam menjaga kenyamanan wisatawan. Ia menilai daya tarik destinasi saja tidak cukup apabila wisatawan harus menghadapi kendala serius di sektor transportasi selama berada di Bali.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK