Jelajahi BDT NEWS

253 Rumah Rusak Akibat Gempa Bogor Magnitudo 4,1

Gempa Bogor Magnitudo 4,1 yang terjadi beberapa waktu lalu merusak ratusan rumah. Mengapa gempa kecil begitu sangat merusak?

liputan6.com (Sumber) via Liputan6 Regional • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 jam yang lalu
3 menit baca 0

BeritaDuniaTerbaru.com — Dua gempa tektonik dangkal menguncang wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor dalam selang waktu kurang dari 10 menit pada sore hari. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa pertama berkekuatan M3,5 terjadi pada pukul 17.49.43 WIB dengan episenter terletak pada koordinat 6,73 Lintang Selatan dan 106,61 Bujur Timur.

Gempa ini berpusat sekitar 3 kilometer arah barat laut Kabandungan pada kedalaman 9 kilometer. Hanya berselang beberapa menit, gempa kedua berkekuatan M4,1 menggoyang wilayah yang sama pada pukul 17.58.22 WIB dengan episenter pada koordinat 6,73 Lintang Selatan dan 106,60 Bujur Timur.

Episenter gempa kedua berjarak sekitar 4 kilometer arah barat laut Kabandungan pada kedalaman 5 kilometer. Guncangan dari kedua gempa itu dirasakan cukup kuat di wilayah Kabandungan, Sukabumi, serta Pamijahan, Bogor, dengan intensitas mencapai IV Modified Mercalli Intensity (MMI).

Pada tingkat intensitas tersebut, getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah, pintu dan jendela berderik, serta benda-benda ringan dapat bergoyang. Gempa pertama dan kedua termasuk dalam kategori shallow crustal earthquake atau gempa tektonik bersumber di kerak bumi bagian dangkal.

Berdasarkan rekaman BMKG hingga Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB, tercatat lima gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara M1,6 hingga M2,4 yang mengikuti gempa berkekuatan M4,1.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan mengapa gempa dengan magnitudo tergolong kecil tetap dapat menimbulkan kerusakan. Dari perspektif seismologi, kedalaman hiposenter yang sangat dangkal menjadi faktor utama penyebab kerusakan.

"Aktivitas ini diduga kuat berkaitan dengan pergerakan sesar aktif di sekitar Kabandungan. Namun, identifikasi sesar penyebab secara definitif memerlukan analisis lebih lanjut terhadap lokasi hiposenter, mekanisme sumber, dan kondisi tektonik setempat," katanya.

Daryono menyebut terdapat tiga faktor penting yang dapat menjelaskan kerusakan akibat gempa bermagnitudo kecil tersebut. Pertama, sumber gempa sangat dangkal dengan kedalaman hiposenter hanya 5 hingga 9 kilometer. Energi gelombang seismik menempuh lintasan relatif pendek menuju permukaan sehingga pada lokasi dekat sumber, guncangan dapat terasa kuat meskipun magnitudo gempa rendah.

Faktor kedua yakni kerentanan struktur bangunan. Rumah dengan konstruksi yang tidak memenuhi prinsip bangunan tahan gempa, seperti sambungan antarelemen struktur yang lemah, ketiadaan pengikat struktural yang memadai, serta kualitas material yang rendah, lebih mudah mengalami kerusakan saat menerima guncangan.

Faktor ketiga adalah pengaruh kondisi tanah setempat atau local site effect. Lapisan tanah lunak atau endapan lepas tertentu dapat memperkuat amplitudo guncangan seismik. Dalam kondisi tertentu, kesesuaian frekuensi dominan getaran tanah dengan frekuensi alami bangunan dapat meningkatkan respons getaran melalui fenomena resonansi.

"Dengan demikian, tingkat kerusakan merupakan hasil interaksi antara karakteristik sumber gempa, perambatan gelombang, kondisi tanah, dan kerentanan bangunan," kata Daryono.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK